Penulis : Dr. H. Farid Wajdi, M. P,d. , Ketua Kongres Rakyat Pembentukan Kabupaten Balanipa
Dalam pelukan kebudayaan Mandar, Balanipa tidak pernah sekadar dipahami sebagai batas-batas wilayah administratif atau ruang geografis yang pasif. Lebih dari itu, Balanipa adalah sebuah ruang makna yang hidup, sebuah panggung di mana sejarah, nilai, dan spiritualitas manusia Mandar terus berdialog.
Simbolisme Tanah dan Manusia yang Saling Membentuk
Pemahaman tentang ruang makna ini tergambar jelas dalam ungkapan filosofis yang berbunyi, “alawe membolong di Balanipa, Balanipa membolong di alawe” (diri berpusat/berkumpul di Balanipa, Balanipa berpusat/berkumpul dalam diri). Pepatah kuno ini menegaskan adanya relasi timbal balik yang sakral antara manusia dan tanah kelahirannya. Masyarakatlah yang dengan peluh dan pemikirannya membentuk karakter Balanipa, dan sebaliknya, tanah Balanipa dengan segala memori kulturalnya membentuk kesadaran, karakter, serta ketangguhan masyarakatnya. Tidak ada dikotomi antara alam dan manusia; keduanya adalah satu kesatuan napas yang saling menghidupi.
Kesatuan Eksistensial Komunitas
Lebih jauh, relasi yang intim ini melahirkan kesadaran sosial yang mendalam, terangkum dalam kalimat, “akuku dalam engkau, engkaumu dalam akuku.” Kalimat ini merepresentasikan puncak kesatuan eksistensial dalam masyarakat Mandar. Identitas individu tidak pernah berdiri sendiri secara egois, melainkan saling meresapi dengan identitas komunitas. Tidak ada pemisahan yang kaku antara “aku” dan “mereka”. Kebahagiaan satu orang adalah kebahagiaan komunal, dan luka satu orang adalah duka bersama.
Dari Teks Menuju Realitas: Memaknai Mesa Sureq, Mesa Rupa
Puncak dari pencapaian kesadaran ini bermuara pada konsep “mesa sureq, mesa rupa”—satu teks, satu wujud. Konsep ini mengandung makna praksis yang luar biasa mendalam.
- Sureq tidak sekadar dimaknai sebagai teks tertulis atau lontar, atau motif pada selembar tenunan melainkan sebagai akumulasi pengetahuan, nilai luhur, dan memori peradaban Mandar yang diwariskan turun-temurun.
- Rupa adalah wujud nyata, tindakan, dan implementasi dari nilai-nilai tersebut.
Ketika sureq dan rupa menyatu, nilai luhur tidak akan berhenti menjadi fosil sejarah atau simbol-simbol verbal yang kosong. Nilai tersebut mewujud, hadir berdenyut dalam tindakan sosial sehari-hari. Inilah yang menjadi dasar etos kerja dan moral masyarakat Balanipa dan Mandar secara keseluruhan.
Tiga Pilar Etos Persatuan Balanipa
Etos mesa sureq, mesa rupa ini kemudian diterjemahkan ke dalam tiga pilar persatuan yang mengikat masyarakat dalam kehidupan sehari-hari:
- Mammesa diakattaq (Satu dalam kata dan narasi): Menjaga konsistensi ucapan, kejujuran, dan visi bersama. Apa yang diucapkan haruslah menjadi kebenaran yang dipegang teguh.
- Mammesa dinawa-nawa (Satu dalam niat dan orientasi batin): Memiliki ketulusan hati yang sama. Bahwa di balik setiap rencana, ada niat suci untuk memajukan komunitas tanpa kepentingan pribadi yang merusak.
- Mammesa pillambanna (Satu dalam langkah dan kerja bersama): Gotong royong dalam tindakan. Menyatukan energi untuk mengeksekusi visi dan niat baik ke dalam karya nyata.
Panggilan Sejarah dan Relevansinya Hari Ini
Mengingat kembali Balanipa berarti menengok akar sejarahnya sebagai bagian penting dari persekutuan Pitu Baqbana Binanga (Tujuh Kerajaan di Muara Sungai). Konfederasi ini sejak awal berdiri tegak di atas prinsip musyawarah, kesetaraan, dan kehormatan (siriq).
Oleh karena itu, membicarakan Balanipa hari ini bukan sekadar upaya romantisisme masa lalu atau mengenang kejayaan sejarah yang telah lewat. Ini adalah upaya sadar untuk merawat etika serempak. Di tengah arus zaman yang sering kali memecah belah, falsafah Balanipa mengingatkan kita bahwa perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk tercerai-berai, melainkan sebuah ruang dan kesempatan emas untuk bertemu, berdialog, dan mencari mufakat.
Balanipa, pada hakikatnya, adalah sebuah kesadaran. Ia adalah muara tempat teks dan tindakan, masa lalu dan masa depan, individu dan komunitas, berjumpa dan melebur dalam satu rupa yang harmoni.
#AyoSerukanKongresRakyatBalanipa






Leave a Reply