Oleh: DR. Farid Wajdi, Staf Ahli Gubernur Sulawesi Barat
Kemangkatan seorang tokoh besar sering kali menjadi titik tolak bagi sebuah bangsa atau komunitas untuk melakukan refleksi mendalam terhadap nilai-nilai yang ditinggalkannya. Bagi masyarakat Sulawesi Barat dan tanah Mandar secara luas, berpulangnya Mayjen TNI (Purn) Salim Sayyid Mengga pada tanggal 31 Januari 2026 bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah kehilangan kolektif terhadap simbol integritas dan moralitas kepemimpinan.
Sosok yang menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Siloam Makassar ini merupakan personifikasi dari perpaduan unik antara ketegasan prajurit kavaleri dan kelembutan spiritualitas pesisir Pambusuang. Sebagai figur yang meniti karier dari barak militer hingga ke kursi legislatif dan akhirnya menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim Mengga mewariskan sebuah standar moral yang jarang ditemukan dalam riuh rendah pragmatisme politik modern.
Tulisan ini mengupas secara tuntas eksistensi Salim Sayyid Mengga, mulai dari akar genealogisnya yang kuat di bawah bayang-bayang legendaris Haji Said Mengga, pengaruh mendalam lingkungan religius Pambusuang, hingga rekam jejak militernya yang cemerlang dan pengabdian politiknya yang penuh konsistensi. Juga ada refleksi batin yang diutarakan oleh tokoh-tokoh seperti Yacobus K Mayong, yang melihat sang Jenderal bukan hanya sebagai seorang pejabat, melainkan sebagai “cermin” bagi setiap individu untuk memeriksa kadar kejujuran dan konsistensi diri mereka masing-masing.
Eksistensi Salim Sayyid Mengga tidak dapat dipisahkan dari garis keturunan yang membentuk karakter dasarnya. Ia lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, pada tanggal 24 Agustus 1951, sebagai putra dari pasangan Kolonel (Purn) Haji Said Mengga (S. Mengga) dan Hj. Nyilan. Sang ayah, S. Mengga, adalah tokoh sentral dalam sejarah pembangunan Mandar, yang menjabat sebagai Bupati Polewali Mamasa selama dua periode antara tahun 1980 hingga 1990, dan dikenal luas sebagai “Bapak Pembangunan” daerah tersebut. S. Mengga adalah tokoh legendaris dari tanah Balanipa dalam beberapa dekade terakhir.
Pendidikan yang diterima Salim di lingkungan keluarga sangat menekankan pada aspek kejujuran atau ahlakul qarimah. S. Mengga mendidik putra-putranya dengan disiplin militer yang dipadukan dengan nilai-nilai patriotisme dan religiusitas yang kental. Terdapat sebuah adagium yang ditanamkan sang ayah bahwa seorang ksatria sejati tidak boleh mengenal rasa takut kalah, karena ketakutan akan kekalahan adalah sifat dasar dari seorang pecundang. Nilai-nilai ini menjadi kompas moral bagi Salim dalam menavigasi setiap jabatan yang diembannya, baik di militer maupun di dunia sipil.
Salim dikenal sebagai pemimpin yang menolak segala bentuk pragmatisme yang mengorbankan prinsip. Baginya, kejujuran bukan sekadar jargon politik, melainkan fondasi utama yang harus dijalani secara konsisten, meskipun jalan yang ditempuh sering kali penuh dengan risiko dan pengorbanan personal.
Meskipun dalam karier militer Salim berhasil melampaui pangkat ayahnya dengan mencapai pangkat Mayor Jenderal (Bintang Dua), sementara ayahnya pensiun dengan pangkat Kolonel, hal ini tidak sedikit pun mengikis rasa hormatnya sebagai seorang putra. Sebuah fakta yang menyentuh hati banyak orang adalah keengganan Salim untuk mengenakan seragam jenderalnya di hadapan sang ayah. Hal ini dilakukan semata-mata agar ayahnya tidak perlu memberikan hormat secara militer kepadanya, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa bagi Salim, etika keluarga dan penghormatan kepada orang tua berada di atas segala pangkat dan jabatan formal.
Hubungan Salim S. Mengga dengan identitas daerahnya tak terpisahkan dari peran kesejarahan Pambusuang, sebuah wilayah di pesisir Teluk Mandar yang memiliki posisi unik dalam konstelasi budaya dan keagamaan Mandar. Pambusuang secara historis dikenal sebagai kampung nelayan yang tangguh, di mana mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup pada laut, namun melampaui identitas maritimnya, wilayah ini adalah pusat pendidikan agama dan syiar Islam yang sangat berpengaruh.
Salim Sayyid Mengga memulai pengabdiannya di dunia militer sebagai lulusan Akademi Militer (AKABRI) pada tahun 1974. Memilih kecabangan Kavaleri, Salim menjalani karier yang membentang selama lebih dari tiga dekade, dengan penugasan yang mencakup wilayah-wilayah strategis di Indonesia. Profesionalisme yang ia tunjukkan membawanya meraih berbagai jabatan komando penting, yang menuntut keberanian sekaligus kecerdasan taktis.
Awal karier militer Salim dihabiskan di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya di jajaran Kodam XIV/Hasanuddin. Sebagai perwira muda di Detasemen Kavaleri Yonkav 10, ia melewati berbagai tingkatan komando mulai dari Komandan Peleton hingga Komandan Kompi Markas. Pengalaman di lapangan ini sangat krusial dalam membentuk insting kepemimpinannya, di mana ia harus mengelola personil dan peralatan tempur berat di wilayah yang memiliki dinamika sosial yang kompleks.
Setelah satu dekade di Sulawesi, Salim berpindah ke Pulau Jawa untuk mengemban tugas di Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav) dan jajaran Kodam IV/Diponegoro. Di Jawa Tengah, ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Batalyon Kavaleri 2/Turangga Ceta dan Komandan Kodim 0716/Demak. Penugasan sebagai Dandim menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola hubungan teritorial antara militer dan masyarakat sipil, sebuah kompetensi yang nantinya sangat berguna dalam karier politiknya.
Pendidikan militernya juga tidak berhenti pada tingkat dasar. Salim tercatat menyelesaikan Seskoad pada tahun 1990 dan Lemhannas pada tahun 2001. Berbagai kursus lanjutan yang ia ikuti, seperti Susgati Sospol (1995), menunjukkan ketertarikannya pada dimensi sosial-politik dari peran militer, yang membekalinya dengan pemahaman strategis mengenai tata kelola negara dan hubungan sipil-militer.
Pangkat perwira tinggi ia raih dengan integritas yang konsisten. Ia menjabat sebagai Danrem 141/Toddopuli (1997-2001), sebelum akhirnya dipercaya memimpin Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) TNI AD. Kariernya terus menanjak menjadi Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro dan Wakil Komandan Kodiklat TNI AD.
Puncak karier militernya tercapai ketika ia diangkat menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XV/Pattimura pada periode 2005-2006. Menjabat sebagai Pangdam di wilayah Maluku yang kala itu masih berada dalam proses pemulihan keamanan menuntut kearifan dan ketegasan luar biasa. Sebagai Pangdam Pattimura ke-17, Salim berhasil menjaga stabilitas wilayah kepulauan tersebut sebelum akhirnya memasuki masa pensiun dan memulai babak baru pengabdian di ranah sipil.
Setelah purnatugas dari militer, Salim S. Mengga memilih jalur politik sebagai medium pengabdian selanjutnya. Keputusannya ini membawa warna baru dalam peta perpolitikan Sulawesi Barat. Perjalanan politiknya bukanlah tanpa hambatan; ia berkali-kali mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah dan menghadapi berbagai dinamika partai politik, namun integritasnya tetap menjadi ciri khas yang tak tergoyahkan.






Leave a Reply