1. K.H. Muhammad Thahir (Imam Lapeo): Sang Ulama Sufi Pembebas Rohani
K.H. Muhammad Thahir, yang lebih dikenal dengan gelar Tosalamaq Imam Lapeo, adalah mercusuar spiritual bagi masyarakat Mandar. Lahir pada tahun 1838 di Pambusuang (Kecamatan Balanipa saat ini), beliau lahir dari keluarga pendidik Al-Quran. Sejak kecil, beliau dikenal memiliki keteguhan hati dan keberanian yang ditempa oleh kerasnya kehidupan pesisir saat menemani ayahnya melaut.
Pendidikan spiritual beliau melintasi samudera, mulai dari Pulau Salemo hingga menuntut ilmu selama bertahun-tahun di tanah suci Mekah untuk mendalami fiqih, tafsir, dan tasawuf. Strategi dakwah beliau sangat unik, termasuk menggunakan pendekatan kekeluargaan melalui pernikahan dengan putri-putri tokoh masyarakat untuk memperkuat jaringan Islam di Mandar. Keikhlasan beliau dalam berdakwah membuahkan penghormatan besar, di mana beliau sempat menjabat sebagai Kali (Kadi) Kerajaan Tappalang.
Imam Lapeo bukan sekadar ulama, namun pelindung rakyat jelata yang diyakini memiliki kemampuan metafisika (karamah) yang digunakan untuk membantu masyarakat, seperti menyembuhkan penyakit ganas dan melindungi nelayan di tengah badai. Warisan fisik paling monumental beliau adalah Mesjid Nur Al-Taubah (Mesjid Lapeo) dengan menaranya yang menjulang tinggi, yang hingga kini menjadi pusat ziarah bagi ribuan orang. Beliau wafat pada usia 114 tahun, meninggalkan jati diri religius yang kental bagi calon Kabupaten Balanipa.
2. Hj. Andi Depu (Ibu Agung): Sang Singa Jelita dari Balanipa
Hajjah Andi Depu adalah simbol patriotisme tanpa kompromi. Beliau adalah Raja Balanipa ke-52 sekaligus pejuang kemerdekaan yang memegang Bintang Mahaputera RI. Lahir di Tinambung pada tahun 1907, semangat juangnya muncul dari rasa cinta yang mendalam kepada rakyat dan tanah air.
Perjuangan beliau sangat heroik; beliau mendirikan Fujinkai dan memimpin laskar KRIS MUDA (Kebangkitan Rahasia Islam Muda) untuk melawan penjajahan Belanda. Salah satu peristiwa paling ikonik dalam sejarah Mandar adalah saat beliau dengan berani memeluk tiang bendera Merah Putih di depan istana Kerajaan Balanipa, menantang tentara NICA/KNIL untuk menembaknya daripada menurunkan sang saka tersebut. Keberanian ini memaksa pasukan Belanda mundur dan membakar semangat perlawanan pemuda di seluruh Mandar.
Pengabdian beliau tidak hanya di medan perang, tetapi juga dalam mempertahankan kedaulatan adat. Beliau adalah pemimpin yang mengizinkan rakyat menyapanya dengan panggilan “Ibu Agung”, meruntuhkan sekat feodalisme demi persatuan rakyat. Beliau wafat pada tahun 1985 dengan pangkat militer Kolonel Tituler dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang. Sosoknya adalah bukti bahwa Balanipa dipimpin oleh pemimpin yang bersedia mengorbankan nyawa demi kehormatan bangsa.
3. Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH: Sang Pendekar Hukum yang Tak Terbeli
Lahir di Pambusuang, Balanipa, pada 27 Agustus 1935, Baharuddin Lopa adalah representasi kejujuran dan integritas tertinggi di level nasional. Beliau mempraktikkan filosofi Mandar kuno: “Sippappas apa napau lilana anna pelliqana” (Satu kata dengan perbuatan). Ketegasan beliau dalam menegakkan hukum menjadikannya sosok yang disegani sekaligus dicintai.
Karier beliau sangat cemerlang, menjabat sebagai Bupati Majene di usia muda (25 tahun), Jaksa Agung Republik Indonesia, hingga Menteri Kehakiman dan HAM. Di ranah akademik, beliau meraih gelar Doktor dari Universitas Diponegoro dengan disertasi yang menggali Hukum Laut dari kearifan lokal Indonesia. Beliau juga merupakan pejuang hak asasi manusia yang menjadi Sekretaris Jenderal pertama Komnas HAM.
Lopa adalah teladan bahwa kejujuran adalah modal utama pembangunan. Beliau tidak pernah membiarkan kekuasaan mengaburkan prinsip keadilannya, sebuah nilai luhur yang berasal dari didikan budaya Balanipa. Meski telah tiada dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, ruh kejujurannya tetap menjadi inspirasi utama bagi pembentukan Kabupaten Balanipa yang bersih dan berwibawa.
4. Husni Djamaluddin & Basri Hasanuddin: Tokoh Intelektual dan Budayawan
Balanipa juga melahirkan pemikir-pemikir besar seperti Husni Djamaluddin dan Prof. Dr. Basri Hasanuddin. Husni Djamaluddin dikenal sebagai budayawan dan tokoh yang vokal dalam mengangkat martabat kebudayaan Mandar di forum-forum ilmiah nasional. Beliau berperan penting dalam Seminar Kebudayaan Mandar yang merumuskan identitas geografis dan etnis Mandar sebagai satu kesatuan yang kuat.
Sementara itu, Prof. Basri Hasanuddin adalah akademisi terkemuka yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Hasanuddin dan Menko Kesra RI. Keterlibatan aktif mereka dalam menggali nilai-nilai budaya seperti Sipamandar menunjukkan bahwa Balanipa tidak pernah kekurangan stok intelektual yang mampu berkontribusi bagi bangsa.
6. Cammanaq: Maestro Musik Tradisional Mandar
Dari bidang seni, Balanipa melahirkan Cammanaq, seorang artis legendaris yang menduniakan permainan Rebana. Beliau adalah pemimpin grup Parrawana To Baine (Pemain Rebana Wanita) dari Pappang, Limboro. Melalui ketukan rebananya, Cammanaq menjaga denyut nadi tradisi luhur Mandar agar tetap hidup di tengah gempuran zaman modern. Beliau adalah simbol ketangguhan wanita Mandar dalam melestarikan warisan estetika leluhur.






Leave a Reply